PESAWARAN (BERITA 24) – Institut Teknologi Sumatera (ITERA) kembali menunjukkan komitmennya dalam pelestarian lingkungan pesisir di tingkat global. Melalui kolaborasi multidisiplin internasional, tim dosen ITERA sukses menyelenggarakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Internasional bertajuk “Smart Mangrove Management: Integrating Geospatial Technology, Coastal Water Governance, and Sustainable Ecotourism”. Kegiatan ini dilaksanakan secara langsung pada tanggal 6 Juli 2026 di kawasan pesisir Cukunyinyi, Kabupaten Pesawaran, Lampung.
Kegiatan ini merupakan sinergi lintas disiplin yang melibatkan dosen-dosen dari tiga Program Studi di ITERA, yaitu Teknik Geomatika, Rekayasa Tata Kelola Air Terpadu, dan Perencanaan Wilayah dan Kota. Langkah nyata ini juga diperkuat dengan dukungan penuh dari mitra internasional ternama, Universiti Teknologi PETRONAS (UTP), Malaysia. Kegiatan PkM ini sekaligus menjadi bagian dari rangkaian program The 3rd Coastal and Tropical Infrastructure Development International Course (COSTROP-ID 2026) yang diinisiasi oleh Fakultas Teknologi Infrastruktur dan Kewilayahan (FTIK) ITERA
Program ini dirancang untuk menjawab tantangan nyata yang dihadapi oleh masyarakat pesisir Cukunyinyi, di antaranya keterbatasan informasi spasial mengenai kondisi riil mangrove, minimnya pemahaman publik terkait pentingnya ekosistem pesisir, serta belum optimalnya pemanfaatan potensi mangrove untuk mendukung konservasi sekaligus ekonomi lokal. Oleh karena itu,
Integrasi Teknologi Geospasial dan Survei Lapangan
Guna mengatasi keterbatasan data spasial, tim PkM ITERA dan UTP Malaysia membekali masyarakat dengan kemampuan teknis melalui sosialisasi dan pelatihan. Tidak hanya teori, tim pengabdian bersama warga setempat langsung turun ke lapangan untuk melakukan survei dan identifikasi kondisi eksisting mangrove menggunakan teknologi GNSS (Global Navigation Satellite System) serta analisis citra satelit.
“Kolaborasi internasional dan multidisiplin ini tidak hanya berfokus pada aspek ekologis melalui pemetaan presisi dan tata kelola air pesisir, tetapi juga diarahkan untuk mendorong kemandirian ekonomi masyarakat melalui rekomendasi ekowisata berbasis konservasi yang terukur dan berkelanjutan,” ujar Ketua Tim PkM Internasional ITERA, Ratna Mustika Sari, S.T., M.T.
Menghasilkan Peta Eksisting dan Rekomendasi Ekowisata
Melalui rangkaian kegiatan ini, tim PkM berhasil menyusun peta eksisting mangrove kawasan Cukunyinyi. Peta ini nantinya akan menjadi dokumen krusial dan dasar ilmiah bagi pemerintah daerah maupun masyarakat dalam merencanakan pengelolaan serta rehabilitasi mangrove di masa depan.
Selain menghasilkan data spasial, kegiatan ini berhasil meningkatkan pemahaman masyarakat Cukunyinyi mengenai fungsi ekologis mangrove dalam menjaga kualitas lingkungan pesisir. Sebagai motor penggerak ekonomi baru, tim juga merumuskan rekomendasi awal pengembangan ekowisata mangrove yang seimbang antara kelestarian alam dan kesejahteraan ekonomi warga.
Aksi Nyata Konservasi: Penanaman Bibit Mangrove
Sebagai penutup sekaligus implementasi nyata dari komitmen konservasi, seluruh tim pengabdian, masyarakat Cukunyinyi, dan mitra internasional dari UTP Malaysia bahu-membahu melakukan penanaman bibit mangrove di area pesisir. Aksi penanaman ini ditujukan untuk mendukung rehabilitasi kawasan, memperluas tutupan hijau vegetasi, serta memperkuat fungsi mangrove sebagai pelindung alami pantai dari ancaman abrasi dan badai.
Secara keseluruhan, PkM Internasional ini sukses melahirkan luaran konkret berupa peta eksisting mangrove yang akurat, peningkatan kapasitas masyarakat lokal, penguatan jejaring kolaborasi akademik internasional antara ITERA dan UTP Malaysia, serta aksi nyata penyelamatan ekosistem pesisir Lampung yang berkelanjutan. (*)


















