banner 728x250

NasDem Bedah Buku Surya Paloh

banner 120x600
banner 468x60

BERITA24.CO.ID

 

banner 325x300

BANDAR LAMPUNG – DPW Partai NasDem Provinsi Lampung mengadakan acara Bedah Buku “Menelusuri Jejak Pengabdian dan Lahirnya Suryapalohisme” karya Iskandar, S.T., Ketua DPW Partai NasDem Sumatera Utara, Sabtu (24/10/2026) di Ballroom Hotel Novotel Lampung, Kegiatan ini dirancang bukan sebagai seremoni, melainkan sebagai ruang terbuka untuk menelusuri gagasan, nilai kepemimpinan, dan jejak pengabdian panjang seorang Surya Paloh – di pers, di dunia usaha, di organisasi, hingga di politik kebangsaan.

Partai NasDem mengubah sebuah buku menjadi panggung uji gagasan kebangsaan.Buku yang dibedah berjudul “Menelusuri Jejak Pengabdian dan Lahirnya Suryapalohisme” karya Iskandar, S.T., Ketua DPW Partai NasDem Sumatera Utara.

Jika biasanya biografi berhenti pada kisah hidup tokoh, buku ini mencoba membongkar nilai di balik laku.Acara ini dihadiri jajaran elite NasDem, mulai dari Sekjen DPP Hermawi Franziskus Taslim, Ketua DPW Lampung Herman HN, hingga Ketua DPD Bandar Lampung Naldi Rinara. Hadir pula Rahmawati Herdian, bersama mahasiswa, tokoh adat, pengurus partai, dan pegiat literasi politik.Di meja narasumber, komposisinya tidak biasa. Ada Elman Saragih, jurnalis senior yang kenyang dengan sejarah pers Indonesia. Ada Arizka Warganegara, Guru Besar FISIP Unila yang membedah dari kacamata akademik. Ada Abdul Gafur, Pemred Lampung Post. Dan tentu sang penulis, Iskandar.

Diskusi dipandu Wasekjend DPP NasDem, Dedy Ramanta. Acara dihadiri juga oleh Sekretaris Jenderal DPP Partai NasDem, Hermawi Franziskus Taslim, Ketua DPW Partai NasDem Provinsi Lampung Herman HN, Rahmawati Herdian, Ketua DPD Partai NasDem Kota Bandar Lampung Naldi Rinara, jajaran pengurus DPW dan DPD se-Lampung, serta ratusan peserta dari kalangan mahasiswa, tokoh adat, tokoh pemuda, akademisi, jurnalis, dan kader Partai NasDem.Untuk membedah buku setebal gagasan ini, NasDem menghadirkan komposisi narasumber yang lintas perspektif: Elman Saragih, jurnalis senior yang menjadi saksi sejarah perjalanan pers Indonesia; Arizka Warganegara, Guru Besar FISIP Universitas Lampung yang membedah dari sisi akademis dan teori kepemimpinan; Abdul Gafur, Pemimpin Redaksi Lampung Post yang melihat dari kacamata media dan ruang publik; serta Iskandar sendiri sebagai penulis.

Apa itu Suryapalohisme?

Iskandar menegaskan sejak awal, buku ini lahir dari kedekatan lebih dari 15 tahun mendampingi Surya Paloh sebagai kader, murid, sekaligus sahabat perjuangan. Ia menyaksikan langsung apa yang ia sebut sebagai konsistensi pikiran, ucapan, dan tindakan.Karena itu, menurutnya, Suryapalohisme bukan ideologi tandingan. Bukan pula untuk menggantikan Pancasila.”Suryapalohisme adalah kerangka nilai,” tulis Iskandar.Ia merumuskannya dalam empat pilar: restorasi nilai, nasionalisme inklusif, integritas moral, dan idealisme yang berkeadilan.

Kerangka itu dibangun di atas empat pilar utama:

1. Restorasi Nilai: Mengembalikan politik pada etika dan tujuan awalnya, yakni untuk kemaslahatan publik.
2. Nasionalisme Inklusif: Nasionalisme yang merangkul, bukan yang memecah, yang menerima perbedaan sebagai kekuatan.
3. Integritas Moral: Kepemimpinan yang tidak memisahkan antara kekuasaan dan kejujuran.
4. Idealisme yang Berkeadilan: Idealisme yang tidak melangit, tapi membumi dan berpihak pada keadilan sosial.

Empat kata kunci yang menurut penulis menjadi jembatan dari gagasan besar kebangsaan menjadi sikap dan tindakan sehari-hari.Bukan untuk Dipuja, Tapi untuk Diuji

Yang menarik, bedah buku di Lampung ini tidak dibuat sebagai seremoni pujian.Arizka dan Elman justru mendorong forum untuk mengkritisi. Apakah gagasan restorasi itu masih relevan di tengah politik transaksional hari ini? Apakah nasionalisme inklusif bisa menjawab polarisasi?Penulis pun membuka diri. Ia menyebut konsep Suryapalohisme yang ia tawarkan masih mentah, masih harus diuji secara intelektual, dikritik, bahkan disempurnakan oleh generasi berikutnya.Di titik itu, diskusi di Novotel kemarin melampaui soal Surya Paloh sebagai sosok. Ia berubah menjadi diskusi tentang kita: bagaimana idealisme bisa bertahan di dalam politik yang pragmatis.Buku ini akhirnya menjadi cermin. Cermin seorang kader terhadap gurunya, dan cermin NasDem terhadap nilai yang mereka klaim sejak awal berdiri: gerakan perubahan untuk merestorasi Indonesia.(tin)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *