BANDAR LAMPUNG (BERITA 24) – Lampung dikenal luas sebagai salah satu lumbung pangan nasional dengan surplus produksi yang mampu menyuplai kebutuhan pangan wilayah lain di Indonesia. Namun, potensi besar ini kini siap melangkah lebih jauh: dari sekadar menghasilkan pangan, menjadi penyumbang energi bagi bangsa.
Inilah gagasan besar yang diusung dalam Konferensi Daerah (Konferda) PIKI Provinsi Lampung 2026 yang berlangsung di Hotel Horison, Bandar Lampung, Jumat (6/11/2026). Acara ini bukan hanya tentang pergantian kepengurusan, melainkan lahirnya semangat baru para intelektual daerah untuk menyinergikan pemikiran demi kemajuan Lampung.
Lampung adalah penghasil singkong terbesar kedua di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produk samping dari pengolahan singkong dapat diubah menjadi bioetanol — sumber energi terbarukan yang kini menjadi prioritas nasional. Pemerintah Provinsi Lampung sendiri telah meluncurkan Bioethanol Development Center di Terbanggi Besar pada September 2026 lalu, sebagai langkah nyata mengembangkan ekosistem bioetanol dari hulu ke hilir.
Dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Staf Ahli Gubernur Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik, Yanyan Ruchyansyah, Gubernur Lampung menegaskan pentingnya tidak lagi menjual hasil tani dalam bentuk mentah.
“Nilai tambah harus tinggal di Lampung. Hasil bumi kita luar biasa — singkong dan nanas nomor satu nasional, kopi nomor satu ekspor, tebu kedua terbesar, dan padi yang terus bersurplus. Mari kita olah sendiri agar kemakmurannya juga dirasakan di sini,” pesan Gubernur.
Sekjen DPP PIKI, Drs. Benyamin Potondok, M.M., menjelaskan keunikan PIKI yang berbeda dari organisasi lain. PIKI merangkul sepuluh elemen masyarakat: akademisi, rohaniawan, pengusaha, birokrat, legislatif, profesional, olahragawan, seniman, LSM, hingga purnawirawan.
“PIKI bukan organisasi politik. Kami adalah mitra strategis pemerintah — yang berpikir kritis, bekerja secara gotong royong, dan memastikan setiap gagasan yang lahir benar-benar dapat dijalankan di lapangan. Bukan sekadar wacana, tetapi solusi nyata,” ujarnya.
Ketua DPD PIKI Lampung, Prof. Ir. Darwin Pangaribuan, M.Sc., Ph.D., menekankan bahwa konferda ini adalah tentang regenerasi. Pengurus baru periode 2026–2031 diharapkan mampu menyatukan potensi besar yang dimiliki Lampung menjadi program-program konkret yang berdampak langsung pada masyarakat.
“Kita punya segalanya: sumber daya alam yang melimpah dan manusia yang berilmu. Sekarang tinggal menyatukan langkah. Konsolidasi organisasi harus beriringan dengan konsolidasi pemikiran,” katanya.
Ketua Panitia, Dr. Bontor Sitio, S.P., MBA, mengungkapkan harapannya:
“Dua hal besar kita mulai hari ini. Pertama, gagasan bersama: bagaimana kekayaan alam Lampung bisa lebih bermanfaat, dari pangan menjadi energi bioetanol yang kita kembangkan bersama pemerintah. Kedua, kepemimpinan baru yang siap mengawal gagasan itu selama lima tahun ke depan. Pelantikan pengurus direncanakan bulan Desember, dan kami optimis ini adalah awal langkah besar bagi Lampung,” ujarnya. (Tina)


















