Berita24.co.id : Bandar Lampung – Di tengah laporan statistik pertumbuhan ekonomi dan nilai investasi yang terus diberitakan, sering kali realitas kehidupan masyarakat bawah terabaikan.
Pesan itulah yang digarisbawahi oleh Aprohan Saputra, M.Pd. saat mengisi Seminar Nasional Gema Jurnalistik 2026 di Student Center FEB Unila, Rabu, 4 November 2026.
Di hadapan sekitar 200 peserta, Aprohan mengajak mahasiswa dan pers mahasiswa untuk tidak menelan mentah-mentah siaran pers atau angka statistik resmi.
“Angka adalah pintu masuk pemberitaan, bukan akhir dari penyelidikan jurnalistik,” ucap Ketua IWO Lampung itu.
Menurutnya, pemberitaan ekonomi tidak boleh berhenti pada laporan pertumbuhan, nilai investasi, atau besaran anggaran semata, melainkan harus menguji apakah manfaat pembangunan benar-benar dirasakan oleh masyarakat luas.
“Pertumbuhan ekonomi tidak selalu berarti seluruh masyarakat mengalami peningkatan kesejahteraan. Di sinilah pers bertugas mengawasi dampak kebijakan agar tercipta pertumbuhan yang inklusif dan berkeadilan,” tegas Aprohan.
Ia menguraikan empat prinsip utama inclusive growth (pertumbuhan berkeadilan), yakni kesempatan, pemerataan, akses, dan keberlanjutan. Selain itu, Aprohan mendorong jurnalis muda dan pers mahasiswa untuk menguasai teknik jurnalisme data serta mengemas indikator ekonomi menjadi cerita berperspektif human interest.
Di tengah era digital 5.0, ia juga mengingatkan bahwa pemanfaatan teknologi dan kecerdasan buatan harus tetap dibarengi dengan disiplin verifikasi serta independensi jurnalistik.
Dalam sambutannya, Andri Bagas Irawan, Pemimpin Umum UKPM-F Pilar Ekonomi FEB Unila menyebutkan, melalui Seminar Nasional Gema Jurnalistik 2026 ini, pihaknya ingin mendorong jurnalis muda dan pers mahasiswa agar tidak sekadar menjadi pencatat aktivitas ekonomi.
“Pers harus hadir sebagai pengawal kebijakan publik yang kritis demi memastikan pertumbuhan ekonomi benar-benar berjalan secara inklusif dan berkeadilan bagi seluruh lapisan masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Ketua Pelaksana kegiatan, Dwi Marissa Erlina Permata Syahputri mengatakan, seminar nasional yang diikuti oleh sekitar 200 peserta ini terdiri dari mahasiswa, delegasi pers mahasiswa, siswa SMA/SMK, hingga masyarakat umum.
Adapun kegiatan ini, katanya, bertujuan untuk meningkatkan keterampilan serta kepekaan generasi muda dalam mengawal kebijakan publik yang berpihak pada kepentingan umum. (*)


















